TIM INOVATOR CASPEEA UKSW LOLOS THAILAND INVENTORS’ DAY

0149e3666cceab9f5e8846d5bbe4bffe.jpeg

Tim inovator CASPEEA dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang terdiri dari I Gede Kesha Aditya Kameswara, M Sulthan Arkana, dan Pambayun Pulung Manekung Stri Sinandang telah mengikuti kompetisi Thailand Inventor’s Day di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Bangna, Bangkok pada tanggal 2-6 Februari 2020 dengan jumlah peserta sebanyak 500 tim dari 58 negara di dunia, 30 tim diantaranya berasal dari indonesia. Tim inovator CASPEEA dengan judul inovasi “CASPEEA: A Bioplastic Made from Cassava Peel Wastage to Combat Plastic Waste Crisis Worldwide” dibawah bimbingan Dr. Yohanes Martono, M.Sc berhasil memenangkan medali perak diajang Thailand Inventors’ Day yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) pada kategori Protection of the Environment/ Energy/ Water/ Power and Electricity/ Green Technology. Medali perak yang diraih tim UKSW sekaligus melengkapi total raihan 58 medali yang diperoleh oleh kontingen Indonesia, dimana medali yang diperoleh terdiri atas: 5 emas, 29 perak, 24 perunggu.

Produk bioplastik yang mereka kembangkan ini merupakan hasil dari keresahan mereka terhadap polusi sampah plastik yang mencemari lingkungan, dimana menurut laporan PBB plastik setiap tahunnya dapat membunuh satu juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, serta ikan dan penyu yang tak terhingga jumlahnya. Berkaca dari kejadian itu, mereka akhirnya memutuskan untuk membuat bioplastik dari kulit singkong. Alasannya “karena kulit singkong mengandung sekitar 60% polisakarida berupa pati. Di sisi lain Indonesia juga merupakan salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 21 juta ton setiap tahunnya, dan 30% dari berat total singkong yang dihasilkan merupakan bahan sisa seperti kulit yang tidak dimanfaatkan dan hanya menjadi limbah”, kata I Gede Kesha Aditya Kameswara  atau akrab disapa Kesha selaku ketua tim. Hal inilah yang mendorong mereka menjadikan kulit singkong sebagai kandidat kuat untuk bahan utama pembuatan bioplastik karena memiliki keberlangsungan (sustainability) yang baik.

Kelebihan dari produk bioplastik yang mereka hasilkan dibandingkan dengan produk bioplastik kompetitor yaitu dari segi ketahanannya terhadap beban yang sangat baik, dimana produk bioplastik yang mereka hasilkan mampu menahan beban hingga mencapai 15 MPa, sedangkan bioplastik kompetitor hanya dapat menahan beban sebesar 9 MPa, dan plastik biasa dapat menahan beban berkisar 20 hingga 30 Mpa. Hal ini yang menjadikan produk bioplastik yang mereka hasilkan mampu bersaing dengan plastik biasa. Lalu bagaimana dengan kemampuan terurainya? Menurut Kesha, bioplastik yang mereka hasilkan dapat terurai sekitar 34,56%, selama 3 hari waktu penimbunan didalam tanah sedangkan produk kompetitor hanya sebesar 18%, dan plastik biasa tidak terurai sama sekali.(adm)

Berita Lainnya :